PageRank Checker

Laman

Quote

Quote

Dilarang mengcopy isi dari semua blog ini atau menyalahgunakan isi dari blog ini. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Labels List

Quote

Search

Total Tayangan Halaman

Random Post

Recent Posts

BlogRoll

Protected by Copyscape Online Plagiarism Detection
Program Affiliate Indowebmaker
Tampilkan postingan dengan label Kungfu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kungfu. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 November 2010

PENDEKAR CHINA TERAKHIR YANG PUNYA ILMU TOTOK MEMATIKAN!

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Di kota Changchun daerah Dongbei, Tiongkok ada seseorang yang dikenal masyarakat dapat menguasai “ilmu sakti” menotok titik akupunktur ini, telah mempelajari ini sejak usia 7 tahun. Kini Li sudah berusia 80 tahun lebih, ilmu yang dilatih sudah lebih dari 70 tahun, karena Li sekarang bekerja sebagai petugas ronda sukarela, membuatnya mempunyai ruang baru untuk memanfaatkan ilmunya, sekaligus juga memperbaiki keamanan di lingkungan sekitarnya.

Pak tua Li Xinglin menetap di pemukiman Changyuan wilayah Nanguan di kota Changchun, adalah seorang jagoan di tengah masyarakat yang menguasai “ilmu sakti” menotok titik akupunktur.

Setelah pensiun dari kemiliteran, Li bekerja sebagai petugas ronda sukarela di lingkungan tempat tinggalnya. Selama 7 tahun terakhir ini, Li telah memanfaatkan ilmu menotok titik akupunktur ini untuk menangkap lebih dari 100 pencuri di pemukiman tersebut.

Ayah dan kakek Li Xinglin keduanya pernah belajar ilmu beladiri di Vihara Shaolin di Gaoshan, propinsi Henan. Li Xinglin sudah mulai mempelajari ilmu totok akupunktur ini dari kedua sepuh-nya sejak berusia 7 tahun.

“Pada awal mula latihan, karena kekuatan masih kurang dan belum menguasai letak titik akupunktur dengan tepat, sering kali setelah menotok sama sekali tidak ada reaksi apa pun, bahkan sampai jari tangan saya ini membengkak pun belum juga bisa menguasainya. Sampai akhirnya perlahan – lahan saya dapat menguasai kuncinya.”

Selama belasan tahun, Li Xinglin selalu giat berlatih, sekaligus juga saling mencoba ilmu dengan ayah dan paman.

“Berlatih di hari-hari yang paling dingin pada musim salju, berlatih di hari-hari yang paling panas pada musim panas”, setelah latihan dengan susah payah selama bertahun-tahun, akhirnya beliau menguasai ilmu pamungkas ini, dan dapat mencari secara tepat banyak titik akupunktur yang ada pada tubuh manusia.

Bunuh 4 Tentara Jepang dalam tanding beladiri

Setelah meletusnya peristiwa “18 September” (Jepang menyerang Tiongkok pada 1931), 3 propinsi di wilayah Dongbei jatuh ke tangan musuh. Pada 1942, beberapa orang Bushido Jepang menggelar panggung duel di kota Changchun, dan secara terbuka menantang ilmu silat Tiongkok. Pada waktu itu Li Xinglin yang masih berusia 16 tahun, tidak mampu menahan gemuruh emosi di dadanya, dan maju untuk menerima tantangan duel itu.

Li Xinglin berkata, “Hari pertama saya sudah membunuh 1 orang Jepang di tempat, hari kedua 3 orang Jepang lainnya juga mati di bawah tangan saya. Perasaan saya saat itu sangat puas, orang Jepang menggunakan Judo, saya menggunakan Kungfu Tiongkok, terutama adalah ilmu menotok titik akupunktur dan ilmu meringankan tubuh, dengan mudah saya membunuh 4 orang jagoan Jepang.”

Tindakannya itu membuat orang Jepang marah, disebarlah satuan intel untuk menangkapnya. Li Xinglin yang mendapatkan informasi itu langsung melarikan diri malam itu juga, setelah itu ia pun masuk ke dalam satuan militer.

Li Xinglin menceritakan pada wartawan, ilmu menotok titik akupunktur dan ilmu meringankan tubuhnya telah membantunya membunuh banyak sekali musuh di medan perang. Ia berkata, umumnya berperang di garis depan untuk jarak dekat ia tidak pernah membawa senapan.

“Tanpa membawa senapan akan lebih mudah bagi saya untuk mengembangkan ilmu silatnya yaitu ilmu menotok titik akupunktur dan ilmu meringankan tubuh ini.”

Dua keahliannya dengan mudah taklukkan pencuri

Sejak 1998, Li Xinglin pensiun dari kemiliteran, dan menjadi petugas ronda sukarela. “Ketika melihat ada maling, jurus pamungkas saya adalah menyerang dari belakang, terlebih dulu saya menggunakan 3 jari menotok beberapa titik pada punggung pencuri, jika masih belum dapat menghentikan si pencuri, saya akan menotok titik ‘Tai Yang’ si pencuri. Mengandalkan ‘dua jurus’ ini, setiap kali saya selalu berhasil menangkap pencuri. Biasanya pencuri yang berhasil saya tangkap akan pingsan sementara, dan dia akan sadar kembali 1 menit kemudian setelah saya membebaskan titik itu. Titik “Tai Yang” ini adalah titik yang paling efektif dan paling praktis.”

Li Xinglin menceritakan pengalamannya menangkap pencuri, meskipun sudah berusia 80 tahun lebih, jiwa kesatria pada pak tua ini seakan tak pernah pudar sedikit pun. Menurut cerita selama 7 tahun belakangan ini dia sudah berhasil menangkap lebih dari 130 pencuri, keamanan sekitar pemukimannya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan yang lainnya.

Seorang polisi dari kantor polisi wilayah Changyuan memberitahu kepada wartawan, “Sejak Bapak Li secara sukarela menjadi penjaga untuk menangkap maling, keamanan di pemukiman kami ini sudah jauh lebih baik, ditambah lagi kerja keras kami, sekarang ini pemukiman kami boleh dibilang adalah yang terbaik di wilayah Nanguan. Bapak Li sangat lihai dalam hal menangkap maling, saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri ilmu kungfunya, memang luar biasa.”

Menurut penjelasan salah satu rekan media yang ikut serta, ilmu meringankan tubuh pak tua ini juga masih sangat hebat, sekarang ini beliau masih mampu melompat setinggi 2 meter dari tanah.Karena ilmu pamungkas yang dimiliki oleh Li Xinglin, dan selalu berhasil menangkap pencuri, Li cukup terkenal di daerahnya.

Di dekat kediaman Li Xinglin ada sebuah pasar, meskipun barang dagangan di sana sangat beraneka ragam, harganya juga murah, namun perputaran ekonomi di sana kurang begitu baik. Akan tetapi sejak Li Xinglin berhasil menangkap pencuri yang berkeliaran di sekitar pasar itu dengan ilmu totokan akupunkturnya, sejumlah warga kota berdatangan membeli sayur di pasar tersebut untuk menyaksikan secara langsung kehebatan kungfu Li Xinglin, sehingga menggairahkan perdagangan di pasar yang tadinya sepi itu.

“llmu menotok titik akupunktur termasuk salah satu Qigong (istilah moderen bagi latihan kultivasi tradisional), setidaknya dibutuhkan waktu belasan sampai 20 tahun untuk melatihnya. Saya sudah mulai berlatih sejak usia 7 tahun, setelah 5 tahun berlatih, ketepatan saya menotok hanya mencapai 50% saja, setelah saya berusia 20 tahun barulah saya dapat mengerahkan ilmu ini sesuai dengan keinginan. Sekarang saya dapat dengan mudah menotok titik-titik seperti titik Qiangjian, Naohu, Fengfu, Dazhui, Taodao, Shenzhu, Shendao, Lingtai dan lain–lain. Jika di musim dingin lebih banyak baju yang dipakai, saya akan menotok titik Taiyang(di dua pelipis kepala), titik ini juga merupakan titik yang paling saya kuasai.”

Dengan serius Li Xinglin menjelaskan, “Orang yang memiliki dasar ilmu selama bertahun–tahun seperti saya ini, dapat mengetahui letak titik akupunktur secara pasti. Dengan 3 jari yang tengah itu saja menotok lawan, ibu jari dan kelingking tidak digunakan. Tenaga tidak boleh terlalu kuat, juga tidak boleh terlalu lemah. Terlalu kuat akan menghancurkan tulang, tidak ada gunanya, jika terlalu lemah maka tidak akan membawa hasil.”

Para penduduk setempat banyak yang ingin menjadi murid Li Xinglin, bahkan banyak juga orang dari luar daerah yang datang karena mendengar nama besarnya. Juga ada sejumlah sekolah silat dan perguruan kepolisian yang memberikan fasilitas mewah agar Li bersedia mengajar di tempat mereka, namun semua itu ditolak oleh Li Xinglin.

Li mengatakan, “Anak muda jaman sekarang emosinya terlalu besar, suka membuat keonaran, saya takut orang yang mempelajari ilmu ini akan melakukan kejahatan, itu adalah telah berbuat dosa! Apalagi anak-anak jaman sekarang terlalu manja, tidak mau bersusah payah, mana mungkin mereka bisa mempelajari ilmu ini dengan baik? Usia saya sudah sangat tua, stamina saya sudah menurun, belajar ilmu menotok titik akupunktur juga tidak akan rampung dalam 1 atau 2 hari.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Jerry Kungfu

PENGETAHUAN DASAR WING CHUN KUNG FU

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Kungfu Wing Chun ("musim semi") adalah salah satu beladiri china "internal" (Nei Kung). Sebuah sistem beladiri yang dikembangkan sebagai reaksi terhadap beladiri "eksternal" Kungfu Shaolin yang sebagian besar mengandalkan kekuatan.

Dalam salah satu legenda dikisahkan bahwa Kungfu ini diciptakan oleh Ng Mui dan kungfu "Wing Chun" dinamai dari perempuan murid Ng Mui yaitu Yim Wing Chun. Ng Mui adalah Kepala Biara (superior wanita) dan salah satu dari "lima orang tua" (Kepala Biara Ng Mui, Pendeta Jee Shin, Pendeta Pak Mei, Master Fung To Tak dan Master Miu Hin dari Shaolin selatan, sebuah biara Buddha di gunung Sung, Henan, Cina. Bersama dengan lima tetua lainnya, Ng Mui selamat dari kehancuran biara pada dinasti Qing, di akhir abad ke 18.

Melarikan diri ke Kuil Bangau Putih di gunung Tai, Ng Mui bertemu keluarga Yim Wing Chun. Seorang penduduk lokal berusaha memaksa Yim Wing Chun untuk menikah dengannya. Dengan niat menolong Ng Mui mengajar kungfu pada Yim Wing chun agar dapat menghadapinya.

Yim Wing Chun menguasai semua ilmu yang diajarkan oleh Ng Mui, dia mengajarkan kungfu ini pada suaminya. dan mulailah kungfu ini berkembang.

Prinsip dasar Wingchun

Kungfu Wing Chun terkenal dengan ciri khas tertentu, yaitu: Berlatih dengan alat 'manusia kayu Mok Yang Jong', Teori garis tengah, siku yang kokoh dan tangan menempel(Chi sao).

Sebagian besar seni bela diri memiliki banyak bentuk atau latihan dasar. Sebaliknya, Wing Chun hanya memiliki tiga bentuk:

1. siu tao nium (berpikir sederhana0), yang mengajarkan gerakan-gerakan dasar, dan bagaimana untuk menghasilkan kekuatan pikiran dengan latihan terstruktur.
2. Jum Kiu(mencari jembatan), yang mengajarkan integrasi gerakan atas dan bawah tubuh dan cara berlatih berpasangan.
3. Biu jee (jari menembak), mengajarkan teknik menyerang dengan menggunakan energi yang dihasilkan dari putaran kaki, pinggang dan pundak.

Ada juga dua bentuk senjata tradisional Wing Chun: Ma chan dao dan Toya.

Kesederhanaan

Kesederhanaan mungkin merupakan prinsip yang paling jelas dari Wing Chun. Semakin sederhana metode anda, semakin tinggi kemungkinan tehnik beladiri ini bekerja. Ledakan serangan kekuatan garis lurus ke wajah, tubuh, dan pangkal paha musuh adalah metode paling sederhana serangan beladiri ini, menetralkan serangan masuk dengan struktur kuda kuda/langkah segitiga sederhana, dan teori garis tengah dalam bertahan dan menyerang. Semua kombinasi harus mengalir cepat dan efisien untuk tetap selaras dengan teori Wing Chun.

Wingchun merupakan beladiri yang didesain untuk digunakan langsung dalam pertempuran/perkelahian tanpa mempelajarinya terlalu lama. Karakteristik utama dari kungfu ini adalah lebih mengandalkan tehnik bertarung ketimbang penempaan badan. Tehnik yang digunakan berkarakteristik cepat, tepat, sederhana dan akurat serta "to the point" dalam menghadapi setiap serangan musuh. Bertahan dan menyerang mendapat porsi yang sama dalam beladiri ini. Tehnik tangan digunakan dalam 75%, namun tehnik kaki walau jarang dilakukan tapi sangat penting digunakan karena tehnik kaki dalam kungfu wingchun mendukung tehnik tangan.

Dirangkum dari berbagai artikel bahasa lain, Julius Khang SE. Kungfu Wing Chun terkenal dengan ciri khas tertentu, yaitu: Berlatih dengan alat 'manusia kayu Mok Yang Jong', Teori garis tengah, siku yang kokoh dan tangan menempel(Chi sao).

Sumber :harimau-besi.com
Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Jerry Kungfu

Martial Arts

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
1. While polishing your technique you should never stick out your chest or stomach either when fighting or practicing. It stiffens your body and makes your movements awkward. As a result, you are losing control over your body. While practicing always make sure to keep your back bent outward and chest incurved. This is the right sign to distinguish between Kung Fu masters and Kung Fu athletes.

2. Despite the fact that the back should be a bit bent outward, you have to maintain the body centrality; by no means should the body be bent too much. Otherwise it will lose the balance, which can result in loss of equilibrium and steadiness, and make the outgoing energy weak. The back and pelvis must be in the same plane.

3. Bending your head down in fight is like blindfolding yourself, since with your head down you cannot fully control all the actions of your enemy. Moreover, it can lead you to losing the balance.

4. During the fight, your waist should be down. If it is not, it makes Qi to go upward and accumulate in the chest. This accumulation of Qi in the chest causes youto lose the steadiness; your movements will immediately become clumsy and awkward. A man with his Qi in lower Dan Tian can be compared to a weeble wobble, since it is virtually impossible to throw him down on the ground. Now, consider moving the load in the lower part of the weeble wobble upward; the slightest push would overturn the weeble wobble

5. The hand is rounded in elbow and wrist.

6. Practicing, always make sure to perform movements correctly. Otherwise, you would get bad habits, which is rather harmful than advantageous. Mastering new techniques, you should always act without haste; only when you have repeated movements correctly many times, you can consider increasing speed and strength.

7. It is not good performing already learnt techniques with negligence, so-so, since it is hardly of any use. Performing already mastered techniques you need to fully use your consciousness, i.e., using consciousness (Yi) send your energy Qi to the section of the body engaged in this technique. For example, kicking with your heel the moment the heel touches the enemy (target) you need to fully focus on throwing the energy through the heel.

8. Inside yourself, you should work out your mind, spirit, consciousness and Qi until they join together. Only when this happens you will be able to send your Qi anywhere at your wish.

9. The key to mastering is in everyday work at the thing neither master not disciple can do without, namely polishing the basic technique.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Jerry Kungfu